
Bercengkerama denganmu di pojok QB Bookstore Kafe, pada sebuah sore yang sepi. Kau bawa aku mengembarai alam pikirmu, menelusuri pedalaman hatimu. Kau seret aku menikmati kerenyahan candamu, mencumbui kecantikan jiwamu. Maka kutulis surat ini sebagai ungkapan rasa dan kagumku.
Nova yang riang … Siapa pernah menyangka kau sekonyol itu. Tawamu bertebaran di kalimatmu, seolah dunia hanya satu wajah: indah. Toh, di balik gurau kanak-kanak itu, aku menangkap kecerdasan yang memikat. “Waktu kecil aku cukup nakal dan tomboy. Kerjanya nabokin cowok-cowok yang ganggu, saya tampar, saya pukul sampai muntah!” akumu. Hmm, tak sia-sia jadi atlet tenis nasional kala itu kan? Tapi kenapa masa remajamu jadi manja? Lantaran kaulah si bungsu yang terbiasa diurus segala keperluannya? “Ada masa aku kesulitan mencari problem solving, misalnya saat putus cinta,” akumu.
Nova yang unik… Kubayangkan sosokmu dulu. Masa di mana kamu jadi pusat perhatian di kampus. Rambut cepak ala Dolores sang vokalis The Cranberries, kemeja dan celana gombrang, sendal besar milik ayahmu, plus walkman yang menempel ke mana kau pergi. Tentu itu bukan gaya busana butik di Seminyak, atau gaya Vintage & Bohemian dan J-pop yang jadi favoritmu kini. “Gaya saya memang aneh sendiri waktu itu. Eh, ternyata banyak yang naksir, ha ha ha!” Tapi mungkin juga lantaran kaulah si gadis cerdas yang memimpin majalah kampus. Kini pun kau masih unik, Nova. Suka gaya busana Sarah Jessica Parker sang bintang Sex and The City itu. Genre musik alternatif Smashing Pumpkins atau Stone Temple Pilots, hingga lirik penuh makna ala U2 dan The Cranberries. “Dulu sempat les piano, tapi nggak bakat. Les drum tapi nggak terlalu emosionil. Jadi akhirnya jadi musisi pasif aja, ha ha ha!” Ah, tawa itu.
Nova yang telanjang… Musik pula yang mengiringi lincah jari mungilmu menekan keyboard menuangkan ekspresi dalam novel. Siapapun tak menyangka gadis gaul sepertimu mampu menelanjangi relung jiwa manusia yang lama berkubang lumpur hipokrit lewat kekuatan prosa. Dengan “Mahadewa Mahadewi” dan “Imipramine” kau ungkap persetubuhan bebas, pernikahan tanpa cinta, aborsi, hingga percintaan liar kaum gay. Kau bersaksi tentang agama dan moralitas yang jadi dalih kosong, tentang pemujaan benda berlebih, tentang dunia yang ditutup-tutupi namun realitas yang hidup. Telanjang tanpa menghakimi, tanpa penilaian. Toh, aku sulit memahami kenapa saat menulis Imipramine kamu suka jalan-jalan di rumah dengan tubuh hanya berbungkus underwear? Hmm, kini perkenankan aku mengutip kalimat novelmu: “Aku tidak suka batasan-batasan. Aku benci norma-norma. Pandangan hidup. Falsafah. Atau apa sajalah. Semua prinsip yang menyesatkan. Manusia terlahir suci. Dunia seharusnya indah. Hidup seharusnya sederhana…”
Nova yang berdamai dengan hidup … Seekstrem itukah cara pikirmu? Segila film Godfather Trilogy kesukaanmu itu? “Ah, aku hanya meluapkan emosi sesaat kala itu, meskipun, itu sudah melalui proses kristalisasi yang lama. Aku memang belum dewasa waktu itu, masih coba break free. Itu setelah bapak dan kakakku berpulang. Aku marah dengan kehidupan, aku meledak, belum berdamai dengan realita,” kenangmu. Adakah kisah Lost in Translation, Reality Bites atau Virgin Suicide mempengaruhimu? Entahlah. Yang pasti, kepergian orang-orang terkasih yang begitu memerihkan, jadi titik balikmu. Hidup terlalu pendek, katamu kala itu. Komitmen membebani, kekasih pun kau tinggalkan. Ego merajaimu. Kau ingin lepas, terbang menjelajah langit seperti elang. Lalu kau menulis, dan menulis, melepaskan ekspresimu. “Tapi sekarang aku sudah make peace dengan reality. Aku berproses. Masa lalu adalah proses belajar,” ujarmu. Maka Umroh kau jalani, Tuhan kau dekati. Kau pun jatuh cinta pada fajar di kota Madinah.
Nova yang bersinar terang … Seharfiah namamu, kaulah bintang menyilaukan di galaksi. Entah sudah berapa kali novelmu dicetak ulang. Penerbit berebut meminangmu. Padahal, di sela praktikmu sebagai dokter muda, dan mengajar Bahasa Inggris ke anak-anak kecil, kau tetap mengisi kolom sejumlah majalah. Di tengah aktivitasmu menggarap film dan menulis, kau tetap mengejar gelar S-2 psikiatri. Lantaran itukah kau kini menjauh dari lelaki setelah delapan bulan silam berpisah dengan putra Amien Rais itu? Lagipula, katamu, kau tak suka keramaian. Kau nikmati berada di kamarmu menyantap kue-kue kering jualan dosenmu di kampus. Senikmat kala mengagumi hening kabut di Ubud ditemani ginger ale atau irish coffee. “Kadang pulang kuliah capek dan pusing, aku lebih suka creambath deket rumah, rileks pake aromatherapy atau nonton DVD Sex and The City sampai bego! Ha ha ha!” Karena itu juakah tak kau hiraukan mereka yang antre berharap balas cintamu? “Bukannya egois. Tapi, mau memulai jadi males mikirnya. Mesti kenal keluarganya lagi, belum pencocokan lain. Menikah kan bukan cuma menyatukan dua jiwa tapi dua keluarga,” tuturmu sembari memainkan gelas kosong di depanmu.
Nova yang merasa kosong … Lantas kenapa kau rasa hidupmu belum lengkap? “Ya. Karena belum ada pasangan hidup!” tegasmu. Tapi sebegitu pentingkah sampai kau kadang menangis di kala sendiri? Bukankah sekeliling melihatmu sebagai wanita mandiri yang menikmati kesendirian? “Iya, dikira aku udah seperti itu, nggak peduli, bisa hidup sendiri. Padahal nggak juga. Aku tetap suka ngerasa lost. Masak share ke orang tua terus. Kan perlu juga antardua orang dewasa yang saling memahami.” Kau percaya konsep semua manusia diciptakan berpasangan. “Tapi saya bingung, kok pasangan saya belum nongol-nongol, ha ha ha!” Kutelisik sorot matamu. Lalu kupahami, kau laksana merpati yang sayapnya mulai lelah berkepak, mencari tempat melabuhkan hatimu untuk selamanya. Laksana sepotong tulang yang letih mencari tempatnya di rongga rusuk Adam. “Aku diketawain temen-temen, kok ribet banget mau cepet nikah. Bukan apa-apa, tapi aku merasa memang ada yang belum lengkap. Cuma, itu tadi, susah nyari yang sesuai itu. Apalagi, aku pengennya menikah sekali aja. Ribet kawin cerai itu. Aku orangnya paling malas dengan teknis ribet. Misalnya beda agama, dari awal aku udah bilang nggak. Nggak mau ribet!”
Nova yang pandai mencinta … aku menerawang siapa gerangan belahan jiwamu yang entah di mana itu. Berbahagialah dia. Sebab aku tahu, kau begitu agung mencinta. Kau memaknai dan mengekpresikan rasa itu sungguh-sungguh. Kau marah pada mereka yang membiaskan cinta. Meski, kau akui pernah mencinta dengan mengharap balas. “Tapi aku bisa survive dari putus cinta tiga kali setelah memahami konsep cinta yang… agung. Aku dihibur oleh filsafat.” Mengutip sang filsuf sahabat rohanimu itu, katamu, cinta adalah sebuah even, about be, tak ada akhirnya, endless. Sepanjang jalan. “Maka kalau seorang berani mengucapkan kata cinta berarti harus berani melepaskan semua atribut, naked!” Telanjang katamu, Nova? Termasuk ekspresi making love? “Ya, cinta dan seks memang tak terpisahkan. Cinta harus mengejawantah, harus interconnecting, sebuah ramuan, chemistry dari segala elemen.” Kau pun mengaku pernah menggebu-gebu menjalin kasih. Spontan, penuh ekspresi. Seru, penuh kejutan seperti kisah film. Tapi benarkah kau rela melepas kegadisan itu demi cintamu yang agung, Nova? “Ah nggak, nggak! Intercourse nggak lah! kalau itu aku bisa guarantee, ha ha ha!” Katamu, making love itu bentuknya banyak. Bagimu, status pernikahan tetap harus. “Mikir konsekuensinya aja. malas ke situnya deh. Untung Tuhan kasih konsekuensi, ya. Kalau tidak, pasti semua orang lalukan, ha ha ha…!” Ah, Nova. Kau siksa aku dengan tawa itu!
Nova yang merasa seksi… tersiksa jugakah kau menahan hasrat ragawimu? “Ya, kadang mengganggu. Wajar kan. Gila banget kalau nggak. Cuma, sekarang sibuk banget, sampai rumah udah collaps. Jadi sedikit banyak terhapus kegiatan. Kalau nggak sibuk, mungkin udah gila! Ha ha ha!” Ah Nova, bibirmu itu. Benar kata mereka, di situlah letak sex appeal-mu. “Dulu sebel banget sih sama bibir saya yang monyong. Cuma lama-lama banyak yang bilang seksi. Ya, saya bermodalkan itu, ha ha ha!” Tawamu begitu lepas. Memecah hening kafe kecil favoritmu itu. Aku meningkahi sesaat. Hanya sesaat, karena, jujur saja, aku malah membayangkan low hip underwear berbahan lycra dan bermotif lucu tapi sportif yang kau gemari. Aku mencium wangi vanila dari parfum bodyshop yang jadi andalanmu. Katamu lagi, kau rindukan cowok seksi. Seksi versimu, tentu. “Tak perlu cakep, tapi punya falsafah hidup, mengerti romance. Bisa mengungkapkan pikiran tentang apa saja yang mengejutkan aku, sesuatu yang sederhana tapi aku lupakan. Itu kayaknya seksi banget deh!” Tapi kenapa tiga mantan kekasihmu sama dari Jogya, sama berwajah Arab berambut ikal?
Nova yang jujur … Kau mendefenisikan dirimu perempuan lengkap dan balance. Punya ego kuat sekaligus sisi lemah. Kadang merasa superior, tapi sampai rumah menangis juga merasa ada yang kurang. Kamu sebut dirimu pekerja keras, tidak mau kalah, dan sensitif. “Kadang aku merasa diri terlalu tinggi, sehingga saat disakiti, aku marah. Padahal kan seharusnya kontemplasi. Yah, aku memang masih proses belajar, tentang apa saja!” akumu. Kamu berobsesi kelak mendirikan pusat rehabilitasi psikis yang terintegrasi. Sebuah oase kejiwaan yang tak cuma memberi siraman rohani, tapi juga pengobatan medis. “Seperti spa yang khusus mengobati body and soul, penuh suasana rileks, tidak menakutkan seperti RS jiwa,” katamu. Toh, aku teramat paham yang kau cari saat ini sosok untuk mengisi sisi terpenting hidupmu: suami dan ayah anak-anakmu!
Kuakhiri surat ini, Nova. Sepotong surat tak terkirimkan. Biarkan begitu. Sebab kau bukan dan takkan pernah jadi milikku. Kau milik semua orang. Semua yang menghargai makna kebebasan dan pembebasan diri.
Novagrafi
Nama Nova Riyanti Yusuf Lahir Palu 27 November 1977 Tinggi/berat 160 cm/44-45 kg Tokoh yang dikagumi Simone de Beauvoir, Jean Paul Sartre, Bill and Hillary Clinton, JK Rowling, Sofia Coppola Makanan Favorit Kebab, Sashimi, Ketoprak dan bakso bergajih Pendidikan SD Ora et Labora, SMP Al-Azhar, SMA Tarakanita I, FK Usakti, S-2 Psikiatri UI (tahun I) Pekerjaan Dokter Umum di Klinik Universitas Paramadina Mulya, Honorary Editor Majalah Tasya, Jurkam Motivasi Minat Baca Perpunas RI, (skrg Anggota DPR dr Demokrat) Karya novel Mahadewa-Mahadewi, Imipramine, 30 Hari Mencari Cinta, Jurnal Prosa 4: Yang Jelita Yang Cerita, Threesome dan Dunia Tanpa Waktu (dua terakhir rilis Februari 2005) Prestasi Pemenang Fun Fearless Female 2004 Majalah Cosmopolitan. Aktivitas Lain, kolumnis di majalah MO, Djakarta, Gatra, terlibat film Betina dan Tuhan, Beri Aku Kentut
Sumber: Rubrik She's, Majalah Men's Obsession Edisi Februari 2005
, penulis: andi nursaiful
Tidak ada komentar:
Posting Komentar