
Jika dari judulnya Anda berharap akan menikmati tontonan yang menghibur, sebaiknya buang jauh-jauh keinginan itu. Angels in America bukan tentang bidadari-bidadari cantik, melainkan sebuah film berat yang sulit dicerna sepotong-sepotong. Secara keseluruhan, ini film tentang kekalahan, keterpurukan dan keterasingan. Tentang kesombongan luar biasa, kejujuran sekaligus kebohongan, dan tentang wajah sosial politik Amerika Serikat. Sebaris kata untuk mewakilinya: sebuah film mencerdaskan yang sangat layak tonton.
Jika masih juga belum cukup untuk membuat Anda tertarik menontonnya, mungkin kehadiran aktor/aktris kawakan Al Pacino, Meryl Streep, dan Emma Thompson, akan memotivasi. Atau, predikat yang disematkan pada film ini: Menang lima Golden Globes (Best Miniseries, Best Actor, Best Actress, Best Supporting Actor, Best Supporting Actress), dan 33 penghargaan lain, serta 27 nominasi.
Pada 2004, Angels in America memecahkan rekor sebagai program TV yang meraih Emmy Award terbanyak dengan memenangi 11 award dari 21 nominasi. Screenplay yang ditulis oleh Tony Kushner, mengadaptasi karya dramanya sendiri yang juga sukses meraih Pulitzer.
Kerumitan plotnya tergambar dari durasi selama enam jam penuh. Mengambil seting awal pada 1985 tatkala Ronald Reagen mulai duduk di Gedung Putih, di tengah epidemi AIDS yang menghantui warga AS. Dikisahkan Prior Walter (Justin Kirk) sangat terpukul ditinggal pacar homonya, Lou (Ben Shenkman) setelah mengaku mengidap AIDS.
Sementara itu, Joe Pitt (Patrick Wilson), seorang pengacara muda pendukung Partai Republik dan seorang penganut Mormon, juga bermasalah dengan istrinya, Harper (Mary-Louis Parker). Harper terjebak dalam perkawinan hambar dan kesepian luar biasa akibat lack of sex, sehingga lari ke valium dan lebih sering berada di dunia halusinasi. Ia curiga sang suami adalah seorang gay, yang ternyata belakangan terbukti benar. Joe malah terpikat dengan Lou, yang masih dihantui rasa bersalah telah meninggalkan kekasihnya.
Bahkan Joe Cohen (Al Pacino), seorang pengacara senior yang memiliki relasi dan kekuasaan besar di dunia politik dan hukum, pun pengidap AIDS akibat kehidupan homoseksualnya. Yahudi aktivis sayap kiri ini dibenci banyak orang akibat keserakahan dan kesombongannya. Ia memaksa Joe untuk menduduki sebuah posisi di Departemen Kehakiman, dengan tugas mengamankan ancaman yang menghantui Roy.
Belakangan, Roy kian terpuruk setelah izin praktik pengacaranya dicabut. Tergolek lemah ranjang rumah sakit, ia terus dihantui oleh halusinasi kehadiran Ethel Rosenberg (Meryl Streep), perempuan yang dieksekusi mati oleh keahlian Roy di ruang sidang. Di tengah kesombongan luar biasa, Roy meninggal mengenaskan akibat AIDS.
Di saat lain, Prior yang menanti ajal, terus dihantui mimpi buruk dan halusinasi kedatangan bidadari dari surga yang membawa pesan bahwa dirinya telah diangkat sebagai nabi oleh dewan bidadari dari lima benua. Para bidadari menyampaikan bahwa jangankan dunia, bahkan surga pun telah diabaikan oleh Tuhan.
Di tengah keterpurukan jiwa-jiwa yang hilang itu, mereka tetap berjuang untuk memperbaiki semua kehancuran yang telah terjadi. Kembali merajut ikatan cinta dan menuai harapan di atas puing-puing kesendirian dan keterasingan. Tapi tak seperti film berat dan rumit lainnya, ini berakhir happy ending, persis di masa berakhirnya perang dingin.
Yang menarik, kecuali Al Pacino dan Mary-Louis Parker, para aktor/aktris memerankan lebih dari satu karakter. Meryl Streep, misalnya, selain memerankan Ethel Rosenberg, ia juga berperan sebagai Hannah Pitt (ibu Joe Pitt), Rabbi Yahudi, dan Bidadari benua Australia.
Rasanya tak berlebihan jika menyebut film ini sebagai salah satu masterpiece sinema Amerika. Semua nyaris atau bahkan sempurna. Mulai dari akting para tokohnya, naskah cerdas yang membumi, sinematografi kelas wahid, dan daya pikat dari awal hingga akhir.
Angels in America bukan saja telah mendokumentasikan secara jujur tentang kehidupan kaum gay Amerika, berikut penderitaan akibat epidemi AIDS yang menghantui mereka. Film ini juga bertutur cerdas tentang kehidupan sosial politik masyarakat AS di pertengahan 1980-an, di mana semua orang dihantui ketakutan dan juga dipenuhi harapan. Juga, menggambarkan titik awal karakter politik AS yang kelak tampil sebagai polisi dunia di masa-masa akhir pemerintahan Ronald Reagen. Sekali lagi sebuah film sangat layak tonton.- andi nursaiful
Judul Film : Angels in America
Genre : Drama, Miniseri TV
Pemain : Al Pacino, Meryl Streep, Jeffrey Wright, Mary-Louis Parker, Emma
Thompson, Patrick Wilson, Ben Shenkman, Justin Kirk
Sutradara : Mike Nichols
Studio : HBO, 2003
Tidak ada komentar:
Posting Komentar