Senin, 08 Maret 2010

Maylaffayza: More than Sexy Violin



Sebuah siang yang senyap di sudut Gloria’s Jeans Coffee, EX Plaza. Kujelajahi tapak masa lalumu, yang kulihat hanya kala berwajah tunggal: biola. Kutelusuri relung jiwamu, yang kutemui hanya satu warna: putih. Kusapa kau dengan hati, kau sentuh aku dengan air mata empati. Ah, Fay…, begitu putih hatimu.

More than The Past
Dua dasawarsa hidupmu hanya berhias biola? Jujur saja Fay, aku tak mampu membayangkan rupa masa kecilmu. Ketika anak lain asyik menikmati dunia kecil, kau tenggelam dalam dawai dan not. Di saat remaja lain terbuai melodi cinta monyet, hari-harimu disesaki latihan penuh displin. Kala mahasiswi lain sibuk mereguk nikmat masa muda, kau tetap setia mengejar mimpimu: sukses di biola dan kuliah. “When I look back, my past and my childhood was all about violin,” katamu. Aku paham, tentu bukan biola sebagai benda, tapi betapa biola mempengaruhi semua nilai-nilai hidupmu: disiplin, integritas, komitmen!

Tapi kenapa aku merasa itu hidup yang tak normal, Fay? “Yah, kadang memang merasa nggak normal, karena sejak usia sembilan tahun sudah memikirkan masa depan. Tapi aku nggak pernah menyesalinya. Aku memang jatuh cinta pada biola. Justru masa 20 tahun itu yang membuat aku seperti sekarang ini! Dan aku makin percaya dengan prinsip: kalau aku mau aku pasti bisa!”

Yes, you made it, Fay! Kau buktikan bahwa dispilin bukan sekadar kata. Meski masa kecil itu hilang, meski asyik masyuk masa remaja itu tak membekas, meski kau terpaksa hanya punya satu kekasih yang akhirnya pun usai sesaat. Pengorbananmu tak sia-sia. Seorang bintang bernama Maylaffayza itu tak lahir dari siapa-siapa, tapi darimu sendiri. You deserve it, Fay! Maka jangan salahkan mereka yang iri dengan capaianmu. Tapi tolong katakan, apa yang membuatmu segigih itu? What triggered you, Fay! “Lucu sih. Waktu kecil aku seneng banget sama Michael Jackson. Salah satu lagunya, Man in the Mirror, memberiku inspirasi sampai sekarang. Dari lagu itulah aku selalu termotivasi mengejar impianku. Ada kata-katanya: If you want to make a better world, take a look at your self and make that change!” Tapi jujur saja Fay, tak peduli ada atau tidak lagu itu, bagiku kau tetaplah si tangguh. Sesungguhnya, kaulah inspirasi itu sendiri!

More than The Life
Maaf jika selama ini aku melihatmu sekadar pemain biola yang cantik nan seksi. Kini aku paham, kau laksana dua sisi mata uang yang sama. Di panggung, kau memukau penonton dengan pertunjukanmu yang atraktif dan seksi. Tapi kau jua yang mengurus segala ihwal manajemen. Kau urus dirimu sendiri. Kau musisi, entertainer dan bussiness woman sekaligus. Banggalah ayahmu yang tak lelah menempa kemampuan itu.

“Sebetulnya aku sempet dying to have a manager, karena aku udah pusing ngurus ini itu, aku ingin sekali bisa konsen belajar tari, vokal, teori musik, biola, dan segala macam. Tapi aku berpikir, daripada terjebak perjanjian bermasalah, biar deh aku urus sendiri. Kalaupun ada masalah, bukan karena orang lain tapi karena aku sendiri. Aku memang punya tim, tapi strategi marketing, hubungan dengan media, target ke depan, master plan-nya, semua itu dari aku,” tuturmu.

Untuk sesaat, yang kuhadapi adalah Maylaffayza sang pemain biola yang lembut, namun seketika kau berubah jadi sang manajer yang begitu fasih bicara manajemen sang bintang. “Aku produce sendiri. Semua investasiku untuk mendukung si Maylaffayza ini. Aku menananmkan inbvs untuk may untuk guru-gutu Selain recording, investasiku untuk belajar biola ‘dia’, untuk semua guru-gurunya, teori musik, vokal, tari, sampai akting. Sekarang aku lagi cari investor untuk recording.”

Hmmm, lantas dari mana energi untuk semua itu, Fay? Semudah itukah menjalani hidup? Maka ajarkan aku bagaimana hidup harus disikapi. “Life is about building and living it eaech and every moment to make it better. That’s it! Aku sih nggak mau membuatnya complicated,” katamu. Tapi, Fay, bukankah hidup memang rumit? Bukankah kita tak hanya menjalani hidup, tapi juga memikirkan jalan apa yang menghadang di depan? Katamu lagi, kenapa hanya berpikir tentang masa depan kalau tak bisa berbuat yang terbaik untuk hari ini dulu? “The point is, aku harus menjalani setiap detik hidupku dengan berbuat yang terbaik, dan to be fulfilled and content! I love my life, even though I have to work hard for it, to struggle, sampai-sampai proyek-proyek aku terbawa ke mimpi…”

More than The Body
Rasanya aku mulai mengenalmu. Tapi, benarkah kata orang, kau wanita keras hati dan kaku? “Maylaffayza looks very tough outside, but she’s actually very gentle, soft and sensitive inside. Those are the layer not many people know. Banyak orang bilang aku very tough, tapi, that’s because I have to! Kelihatan seperti itu semata-mata karena biola. Karena biola adalah disiplin!” Aku coba percaya, Fay! “Kalau orang yang sudah kenal dekat akan menyadari bahwa aku juga bisa konyol, bercanda, doing stupid things.”

Berarti kau pun mampu menangis? Lalu apa yang mampu membuatmu menangis? “Lucu memang, Di luar aku kelihatan tangguh, tapi sejujurnya aku gampang menangis. Nonton film sedih aja aku suka nangis.” Maka kupaksa kau mengungkap sisi sosialmu. Seorang kakek penjual kacang di pom bensin membuatmu iba, seiba kala menemui perempuan renta di sebuah gedung parkir. “Pakainya tetap bersih meski kusam. Tidak dibuat kotor. Dia duduk di lantai dan mengharap belas namun tidak dengan wajah memelas. Menurut aku dia cantik banget. She looked like an angel. Setiap lewat sana…, aku pasti menemuinya…” Ahh, Fay, kau benar-benar menangis! Kini aku percaya, hatimu memang putih. “Oh my God I start to cry… Lets talk about anything else.I Aku nggak mau menjual hal-hal begini. Actually, I’m not suppose to tell this to anyone!”

Baiklah, mari bicara tentang keindahan tubuhmu. Sadarkah kau tubuh itu tak kalah seksi dari biolamu? Bicaralah, Fay! “Hmm, mungkin iya. Tapi meski orang bilang aku seksi kalau pakai baju tertentu, atau kalau sedang play violin, dance, tapi defenisi aku sendiri, aku seksi karena I know what I want! That is sexy!“

Kau sebut dirimu cat person, apa pula itu, Fay? Katamu, sangat mencintai kucing lantaran sifat dan karakternya mirip denganmu. Bisa bermain menikmati imajinasinya sendiri. Kadang-kadang bertindak bodoh, tapi bisa smart dan sangat independen. “Kucing tahu disayang dan dimanja tapi nggak tergantung siapa-siapa. Ditinggal pergi kapan aja, dia tetap seneng saat kita pulang. Cat is very loveable, but it’s very independent. I’m a cat person and I love cats!”

More than The Performance
Rasanya aku kian mengenalmu, Fay. Kini ceritakan kesukaanmu selain biola dan biola. Ceritakan dirimu yang tak terungkap. “Aku enjoy, suka banget sama musik yang dimainkan orang-orang kulit hitam. Karena mereka tuh menyanyikannya sangat soulfull.” Katamu lagi, soal fashion kau lebih suka yang nyaman dan seksi. “Sexy and comfortable is my fashion, ha ha ha!” Karena itukah kau sebut model tank top, body suit atau tiny/T dari Mango is the best? Lalu apa yang membalut tubuhmu di balik busana luar itu? “Underwear? Nothing spesific about it, all kind of style, tergantung kebutuhan aku aja. Intinya, I’m not a fashion freak. My body is my fashion! Ha ha ha!” Katamu pula, paling suka mengunjungi kafe WWWOKK di Kemang yang tenang dan damai. “Di sana aku bisa santai, main bilyar, ngeteh, bahkan sampai meeting bisnis di sana. Udah kayak rumah banget. Aku bisa datang sendirian untuk makan, atau suntuk mau bilyar sendiri.”

Lantas kenapa pula kau bilang sudah capek nonton film? Lantaran setiap hari minggu kakakmu ‘memaksa’ mengajak nonton sampai tiga film? “Sekarang aku hanya mau nonton yang menghibur aja, yang benar-benar membuat aku entertained. Udah capek nonton!” Maka itu, di rumah kau lebih menikmati membunuh waktu dengan shower, temaram lilin, aroma terapi, teh hangat, musik lembut, dan baca buku sampai tertidur. “Bisa santai di rumah seperti itu tanpa mikir apa-apa udah nyaman banget, udah surga banget! Aku merasa nggak perlu lagi clubbing untuk seneng-seneng. Bukan berarti nggak suka, cuma udah capek. Apalagi, aku nggak minum alkohol, nggak ngerokok, nggak ngopi, jadi buat apa harus clubbing? Aku ingin hidupku tenang aja.”

Harus kuakui juga, kau pun wanita cerdas berwawasan luas. Tak percuma bacaanmu begitu lengkap, mulai dari musik, sastra, manajemen, bisnis, kesehatan, hingga buku agama, yang semuanya berbahasa Inggris. Kau bahkan sangat menikmati membaca Alquran berbahasa Inggris. “Lebih indah dari Shakespeare!” katamu. Latar belakang keluarga besarmu yang lintas kultural memang membuatmu terbiasa berbahasa global. “Yang juga aku nggak cerita ke orang, aku sangat peduli kesehatan. Terutama sejak sering sakit tahun lalu sampai pernah dirawat.” Sejak itu, kau belajar meditasi menyelaraskan tubuh dan pikiran, menekuni art of living dari seorang guru dari India, hingga mencoba tehnik natural healing. “Alhamdulilllah, sejak awal 2005 sampai sekarang, aku nggak pernah ada sakit berat.”

More than Sex
Aku benar-benar telah mengenalmu, kecuali satu hal: seks! Cinta dan seks kata orang tak terpisahkan? “I think so. Tapi buat aku, harus ada legal status. Memang sih, itu pilihan masing-masing orang. Kalau bisa mempertanggungjawabkan semuanya, go ahead!” Sebagai wanita matang, kau tentu menyimpan hasrat itu. Pernahkah kau berpikir segera mengakhiri kesendirianmu? “I have thousands of wonderful things in life, kenapa aku harus tersiksa dengan hasrat itu. Memang aku nggak punya pacar, tapi itu hanya 0,1 persen dari 99,99 persen kehidupanku. Why should I concentrate on something that I don’t have?”

Tentu, Fay, tentu! Tapi pasti kau punya kriteria laki-laki pujaan kan? “Aku ingin hidup dengan seseorang yang pikirannya terbuka, pemimpin yang bijak dan bisa jadi equal partner, bisa bikin perasaanku damai, aman, jadi ayah yang komunikatif untuk anak-anakku.” Katamu, apalah artinya laki-laki gagah, ganteng, pintar, kaya, tapi tak mampu membuatmu damai dan bersama-sama membangun keluarga harmonis. “Buatku, laki-laki harus berhati lembut. Karena dari kecil aku biasa hidup dengan disiplin keras, maka aku nggak perlu lagi seseorang yang ngomong keras ke aku. Aku butuh yang bisa bicara lembut, tukar pikiran dengan terbuka, 50% liberal 50% conservative!” Kamu yakin, tanpa kau cari pun dia akan hadir sendiri selama kau tidak menutup diri. “Bukan berarti aku tidak butuh cowok, tapi aku hanya menjalani hidup dan percaya Tuhan akan mengirim seseorang selama aku tidak menutup diri terhadap kemungkinan.”

More than a Dream
Mengenalmu lebih dalam rasanya bagai berkah, Fay. Kamu kisahkan sebuah mimpi yang membuatku iri. Sebuah mimpi luar biasa religius, sebuah petunjuk akan kebesaran dan zat-NYA. Karena itukah kau rajin membaca Alquran. “Dari kecil Mama memang menuntut aku bisa baca Alquran. Aku juga merasa harus mempelajarinya. Aku mau menjalankan agama karena mengahayatinya, bukan karena diharuskan.”

Rasanya siapa pun iri melihat suksesmu. Tapi bagimu, sukses itu tak diukur dengan pencapaian. “Success for me is about happiness!” Katamu, percuma banyak show, banyak uang, publikasi bagus, tapi tak membuatmu bahagia. Sukses kamu artikan saat merasa bahagia dengan apa yang kau punya. “Tapi kalau ditanya apa tujuanku, banyak sekali. Sampai mati aku ingin kerja di musik. Aku ingin jadi produser, jurnalis musik, dirigen, jadi law and bisnis consultant di bidang entertainmen, guru, dosen musik, ingin bikin soundtrack musik, jingle iklan, ingin punya perusahaan rekaman sendiri, ingin go international. Ingin jadi menteri kebudayaan…!”

Wow! Hanya itu yang kumampu katakan, Fay. “Don’t you think that’s too much?” tanyamu. ”Buat aku, just give it a shot! Kenapa harus membatasi diri! Impossible is nothing! Intinya itu! Why should we create the word Impossible? Sementara Tuhan memberi kita kemampuan lebih. Just do your best!”

Sekeliling kita mulai bising, Fay. Maka aku sudahi saja kontemplasi ini, perenungan kita. Kujabat jemari halus namun penuh berkah itu. Dengan hati, kudekap sosok teguh itu. Kulepas tubuh indah itu dengan tatap. Terbanglah, Fay, terbanglah setinggi kau mau. Kan kuantar kau dengan doa…

Fayzagrafi
Nama Lengkap Maylaffayza Permata Fitri Wiguna Lahir Jakarta, 10 Juli 1976, anak kedua dari dua bersaudara pasangan Taufik Wiguna-Tuty Rochyati Tinggi/Berat 168/49 Pendidikan Formal Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti Pendidikan Non formal Sekolah musik Bina Musika, privat biola pada Idris Sardi dan Sharon Eng, International Music Institute, AS, sekolah vokal pada Elfa Secioria, Bertha, dan Caterina Leimena. Pekerjaan/Profesi Pemain biola profesional sekaligus memimpin manajemen Maylaffayza Prestasi: Murid terbaik sekolah vokal Elfa Secioria tahun 1997, Finalis Fun Fearless Female Majalah Cosmopolitan 2000, Finalis Kandidat MTV Faces of Millenium 199, MTV Asia Aktivitas Aktivitas Selain tampil di berbagai ajang terkemuka, kini merampungkan album pertama berisi permainan biola dan vokal, juga sibuk latihan drama musikal (berperan sebagai kucing), tari, vokal dan akting, mengisi soundtrack film. Tokoh yang Dikagumi Bung Karno Penulis Favorit Deepak Chopra Parfum Favorit Kenzo, Issey Miyaki, Escada Makanan Favorit Italia, Jepang, masakan mama.

Sumber: Men's Obsession, Rubrik She's Edisi April 2005, Penulis: andi nursaiful

Rahma Sarita: Love behind the Scene



Bangil, Pasuruan, 1982
Gadis kecil keriting berkulit gelap asyik berlarian di pematang sawah bersama bocah kampung lainnya. Meski kerempeng, dengan sigap dia memanjati pohon asam dan mengambil ancang-ancang di sebuah cabang besar. Bocah laki-laki dan perempuan menyemangati. Dia lalu melompat ke tumpukan jerami di bawahnya. Tawa lepas anak-anak kampung memecah keheningan siang di tepi hutan.

Jakarta, 2002

Duapuluh tahun berselang. Di layar kaca, seraut wajah cantik tampil penuh percaya diri menyiarkan berita ke seluruh negeri. Rahma Sarita. Hanya nama itu yang kutahu, selain seraut kecantikan yang misterius. Tak sedikit pun terlintas, kamulah gadis kampung di tepi hutan itu.

15.32 WIB
“Panggil aku Rahma saja.” katamu, kala kuculik sesaat di sebuah sore yang sibuk di sela-sela dua siaranmu. “Sarita” bukanlah nama pemberian orang tuamu yang berdarah Timur Tengah itu. Nama itu hanya bikinan teman-teman yang risau dengan namamu yang terlalu pendek. Tapi, entah kenapa, aku lebih suka memanggilmu “Ra”. Bagiku, lebih mewakili aura misterimu. Misteri itu jua yang membuatku begitu sulit menjelajahi masa lalu dan pedalaman hatimu. Tapi, Ra, justru itulah daya tarikmu. “Aduh, aku nggak suka diinvestigasi seperti ini,” elakmu. Aku tahu, kamulah yang biasa menginvestigasi orang. Tapi sekali ini saja, Ra! Izinkan aku menelusuri relung-relung hatimu. Kami, laki-laki, berhak menikmati keindahanmu. Kami, kaum Adam, dikaruniai indera untuk mengagumi keutuhanmu. Kamu hanya tersenyum. Ah, senyum misterius itu lagi, Ra!

Toh, sepenggal demi sepenggal tapak masa lalumu mulai terkuak, laksana membangun kepingan-kepingan mozaik sosokmu. “Masa kecilku kurang lengkap karena ibu meninggal ketika aku masih dua tahun,” kenangmu. Kamu pun tumbuh di bawah pengawasan ketat nenek dan tujuh kakakmu hingga remaja. Sang ayah sendiri hijrah ke Surabaya. “Yang paling aku ingat dongeng-dongeng nenek. Itu resep dia agar aku mau tidur siang, meski selalu diputus saat tegang-tegangnya. Tapi dongeng-dongeng itu banyak menginspirasi aku, prinsipku, pandangan hidupku. Semuanya bernilai kemanusiaan yang mungkin sulit diterapkan sekarang karena terlalu ideal!”

Lalu kucoba bayangkan sosok tomboy yang jago lari, voli dan renang tapi senang melukis. Gadis kecil yang tergila-gila pada Michael Jackson. Kucoba hadirkan si gadis kutu buku yang serius belajar hukum di Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya. “Keluargaku agak konservatif, strict, makanya aku jarang pacaran, ha ha ha! Waktu kuliah, bapak menuntut keras selalu dapat nilai baik. Aku takut sekali dan akhirnya fokus kuliah. Waktu sudah kerja pun aku disibukkan urusan kerjaan. Jadi, apa ya, agak kuper kali?” akumu.

Ahh, Ra! Bisa kulihat dari mana asal misteri itu. Jujur saja, kamu terlalu cantik untuk diacuhkan, terlalu indah untuk dilupakan. Maka, jangan salahkan laki-laki yang tergila-gila padamu sampai nekat meneror. “Ah, dia secret adorer. Bikin cerita macam-macam di internet, kirim surat ke bosku seakan-akan ada hubungan. Padahal, I don’t even know him! Dia sempat bikin stres. Ya, mungkin resiko pekerjaan. Waktu masih di TVRI juga pernah. Selain dia, di Metro TV ini pernah juga ada yang datang. Terus terang aku sangat terganggu. Kalau dalam batas normal aja sih aku mungkin berterima kasih, tapi kalau too far, jelas sudah menganggu pekerjaan,” tegasmu. Mungkin aku salah, tapi rasanya kamu seorang pemarah sekaligus gampang menangis. Maka luruskan anggapanku, Ra! “Jujur, iya! Tapi sekarang udah berkurang. Mungkin karena aku orangnya tak bisa pura-pura. Jujur kalau tidak suka. Tapi di Jakarta aku mulai berubah, karena di sini kita harus pintar bersandiwara.”

Sandiwara Ra? Itu jugakah yang kau lakukan saat berbicara datar soal almarhumah ibumu yang tak pernah kau kenal? Kamu hanya terdiam. Lalu meluncurlah pengakuanmu bersama dua butir kristal bening dari mata indah itu. “Ada peristiwa yang mengubah hidupku. Waktu melahirkan Inas, aku memilih persalinan normal, karena … aku ingin tahu bagaimana perjuangan ibu … ah maaf, aku benci kayak gini! Aku nggak pernah diwawancara kayak gini!” Kristal itu pun jatuh tak terbendung lagi.

15.50 WIB
Menangislah, Ra! Menangislah! Jangan biarkan beban itu menyiksamu. Izinkan aku berbagi laramu. Dengan terbata kau meneruskan, “Ya, ibu dan adik meninggal waktu persalinan… Karena itu aku berkeras ingin melahirkan normal… Aku ingin tahu bagaimana perjuangan ibu… Nah, sekarang kamu tahu kan aku sangat emosional!”

Tapi, bagiku itu kian menambah keindahanmu! “Ya, ini yang paling mengispirasi aku sekarang,” katamu sejurus kemudian, seraya menunjukkan gambar gadis cilik usia 2,5 tahun yang lucu dan cantik dari dalam dompetmu. Aku turut bersedih bahwa inspirasimu itu direnggut dari pelukmu dan entah berada berada kini bersama ayahnya. “Aduh! Dari mana kamu tahu itu? Aku nggak suka ceritain ini. It’s so private. Dan aku nggak mau dikasihani…”

Ra!, bukankah sejak tadi aku mendekatimu dengan hati? Bukankah sudah kukatakan persuaan kita ini adalah sebuah kontemplasi? Maka jangan lagi kau ragu membagi kisah kelam perkawinanmu yang gagal dengan sang polisi dua tahun lampau. Izinkan aku ikut merasakan perihmu. “Ya, mungkin dulu karena pacarannya hanya sebulan lalu menikah. Itu kesalahan, ha ha ha ! Ternyata pacaran itu penting!”

Setuju Ra, teramat setuju! Tapi kenapa kau masih juga menutup diri? Sebagai wanita matang, tidakah kau terganggu dengan hasrat itu? “Aku membiarkan semua berjalan apa adanya. Bahkan what happen with me in the past aku anggap memang sudah seperti itu jalannya, tak perlu disesali. Kalau memang saya meet someone, wonderful one, ya, it’s okay. Kalau nggak, ya it doesn’t matter! Biarkan semua berjalan apa adanya!” Apa adanya, katamu. Seperti itu pula kau gambarkan dirimu: sederhana, simple, apa adanya. “Orang lain pun pasti akan menilai begitu. Bagiku, kekurangan sekaligus kelebihan. Aku bisa tampil apa adanya, itu kelebihan. Tapi aku sering tak bisa tampil pura-pura, itu kekurangan!”

16.20 WIB
Katamu lagi, kau begitu mudah tersentuh melihat ketidakberdayaan, terutama
anak-anak dan orang tua. Bagimu, tak ada anak-anak yang tidak menyenangkan, sebab mereka polos, tidak seperti orang dewasa. “Aku lebih cepat tersentuh melihat anak-anak dan orang tua yang tidak berdaya. Menurutku, mereka butuh perlakuan khusus.” Maka bocah pengamen di lampu merah mampu membuatmu menangis. Bahkan nonton film pun bisa menguras air matamu. “Kalau nonton bareng teman-teman, aku selalu jadi bahan tertawaan karena mudah sekali menangis. Buat aku sih, itu salah satu sifat feminim, karena kebanyakan perempuan kan seperti itu?” Ra, tahukah kau bahwa air mata empati itu jauh lebih mulia dari tangis feminim wanita? Itu berkah, Ra! Percayalah!

Kini, izinkan kutambah satu lagi predikat untuk pribadimu: Tangguh! “Ah, nggak lah. Buktinya, tadi nangis. Aku sih merasa selalu kurang. Mestinya bisa melakukan yang lebih ketimbang seperti sekarang ini,” ujarmu bijak. Toh, kamu berharap kelak menemukan sosok pria cerdas, tangguh dan punya fighting spirit. “Laki-laki itu harusnya misterius. Kalau ganteng, perfect, justru tidak menarik, karena tidak ada misterinya kan? Sudah jelas semua, ha ha ha! Kalau ada yang masih misterius, misalnya, oh dia menarik dari sisi ini, sisi itu, menurutku itu nilai tersendiri buat dia!”

Terserah, Ra, terserah! Tapi sadarkah kau betapa cantik dan seksinya sosokmu? Tidakkah kau baca pendapat publik di internet yang menyebut dirimu penyiar paling cantik? “Ha ha ha! Lucu, dulu waktu kecil aku saya tidak suka tubuhku. Kerempeng sekali, tinggi kurus. Hitam karena suka main di luar rumah, rambutku aslinya keriting. Aku benci hidungku, karena menurutku terlalu mancung, aku benci tubuhku yang kurang seksi, kurang berisi. Tapi lama-lama aku merasa bukan itu indikasi cantik dan seksi. Karena, seseksi apapun penampilan fisik, kalau kurang pintar, semua akan terhapus!” Tak heran, kau tak suka tampil seksi, karena sering salah tingkah diperhatikan orang banyak. Tapi bukankah kamu sudah terlanjur milik publik? “Tapi kan di TV, aku tidak tahu orang memperhatikan, ha ha ha!”

16.40 WIB
Lantas apakah juga kau tak tahu di mana letak sex appeal-mu? “Jujur, I don’t have any idea.Buat aku, ini kesatuan, this is me!” Hmmm, mungkin saja kau jujur. Kini mari bicara tentang cinta dan seks! “Hmm, love itu menerima, mengerti, menyayangi. To feel and to give! Kalau kita mencintai seseorang, kita harus bisa menerima semua kekurangannya, menyayangi dan memberikan yang terbaik untuknya!” Termasuk menyerahkan kehormatan, Ra? “Oh kalau seks hanya bumbu, bukan ekspresi, tidak wajib dibutuhkan. You still can love someone without doing that. Bisa dengan seks, tapi tanpa seks pun bisa. Kita bisa mengekspresikan cinta dengan cara lain. Orang bisa having sex many times without love kan?”

Kini aku paham kenapa kau tak tersiksa hidup sendiri selama dua tahun. Terlebih, pekerjaan memang menghabiskan waktumu. Lantas apa yang kau perbuat di kala senggangmu? “Nonton DVD. Kebanyakan waktu senggang aku habiskan nonton. Aku suka semua jenis film kecuali action karena tidak membawa pesan selain ketegangan. Belakangan ini aku suka dan kagum film Iran dan non Hollywood, karena film-film itu maknanya sangat dalam meskipun digarap sederhana.” Karena alasan itu pulakah kau lebih gemar membaca buku-buku karya Jalaluddin Rumi? “Nggak juga sih. Kalau baca aku musiman. Kadang baca sastra seperti karya Pramudya Ananta Toer. Yang pasti aku suka betul dengan penulis feminisme mesir Nawal L. Sadawi.” Yang aku tahu juga, selera musikmu cukup konservatif. Hanya suka Elton John dan Sting, juga lantaran syairnya. Dan, berenang dan melukis adalah kegiatan lain yang kau suka. Bahkan kau sempat belajar pada pelukis impresionis Srihadi dan ikut sanggar sejak SD hingga SMA. Semua hobi itu kau rasa lebih bermanfaat ketimbang menghabiskan waktu dengan dugem.

Tentu beralasan pula kenapa kau lebih suka gaya busana sportif dan kasual, dipadu aroma segar parfum Aqua di Gio dari Giorgio Armany. “Gaun sih suka, cuma teman-teman suka menertawakan, katanya jalanku aneh kalau pakai gaun. Sebetulnya suka sekali. Aku ingin tampil anggun, tapi orang pasti tahu kalau sebetulnya memaksakan diri. Aku sebenarnya sangat feminim. Aku ingin sekali tampil feminim, tapi ketika mencoba tampil perempuan seperti itu, semua orang tertawa!” Aku yakin mereka salah, Ra! Maka, jangan lagi gaya feminim hanya kau pakai untuk underwear yang tak tampak!

17.00 WIB
Persuaan kita kian dihantui deadline siaranmu. Tapi, bagimu, hidup terus dikejar waktu tak membuatmu tersiksa. Sebaliknya, kau begitu menikmati hidupmu sekarang, termasuk kesendirianmu. “Aku cukup puas, meskipun tidak berarti harus berhenti dan tidak berusaha lebih baik. Aku enjoy kehidupanku saat ini.” Terlebih setelah meliput bencana mengerikan di Bumi Aceh. Sepulang dari sana, kamu merasa hidupmu sangat berharga. Aku pun yakin, di Aceh kau menangis. “Aku sudah berusaha menahan tangis. Rasanya malu dan kalah sama para korban yang penuh ketabahan. Dari situ aku menyimpulkan, tidak layak untuk mengatakan hidupku tidak bahagia. Aceh sangat mempengaruhi hidupku. Aku kira semua orang harus pergi ke Aceh agar bisa memperoleh pesan yang disampaikan Yang Maha Kuasa!”

Katamu lagi, hidup itu sulit tanpa sebuah pegangan. Dan, pegangan yang paling utama adalah agama. Aku pun yakin kau pastilah sangat fasih membaca Alquran dan selalu ingat ibadah lima waktu. “Kalau ritual sih aku berusaha tidak bolong-bolong. Mungkin karena dari kecil sudah terbiasa, karena nenek selalu bawa rotan kalau aku lupa sholat. Tapi dulu itu kan ritual. Kalau makna, aku baru tahu manfaatnya setelah dewasa. Misalnya, jadi penguat hati kalau sedang ada masalah atau sedang ketakutan.”

Ah, aku benci waktu yang berlari ini! Kini ceritakan obsesi dan mimpi-mimpimu sebelum kau kulepas. Kau yakin, presenter bukanlah pelabuhan terakhir kariermu. Maka kau berencana melanjutkan kuliah S-2 bidang hukum kelak. “Atau mungkin bidang media massa karena sejak dulu aku memang berobsesi jadi penyiar TV. Yang pasti bukan kerja kantoran di belakang meja!” Terlibat dalam pembuatan iklan kreatif atau film termasuk mimpimu. “Tapi bukan artisnya lho! Dari dulu aku tidak kepikir, meski dulu ikut teater dan sempat ada teman yang ngajak.

Waktu benar-benar tak bersahabat untuk kita, Ra. Maka kusudahi saja perenungan kita. Kurelakan kau pergi. Puluhan juta pasang mata menantimu di layar kaca, kotak ajaib tempat pertama kali kau kutemukan.


Rahmagrafi
Nama Lengkap Rahma Joepri Nama Populer Rahma Sarita Lahir Surabaya, 7 April 1975, anak bungsu dari delapan bersaudara pasangan Ahmad Joepri-Anisa (keduanya almarhum) Tinggi/Berat ….
Pendidikan Formal Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, 1997 Pekerjaan/Profesi Penyiar/presenter/wartawan TVRI (2000-2001), Metro TV (2001-sekarang) Prestasi 3rd Winner Debate Competition Asean Law Student Association Hobi Berenang, melukis, nonton film Penulis Favorit Nawal L. Sadawi Parfum Favorit: Aqua di Gio dari Giorgio Armany

Sumber Majalah Men's Obsession, rubrik She's, Edisi Mei 2005, penulis: andi nursaiful

Jumat, 05 Maret 2010

Tips Menyusun Portofolio Karier


Kehilangan pekerjaan, apapun alasannya, jelas merupakan sesuatu yang menyesakkan. Bagi sementara orang, bahkan menjadi sebuah mimpi buruk. Secara umum, diberhentikan dari pekerjaan biasanya menimbulkan shock, kemarahan, hingga kegamangan. Lantas apa yang harus diperbuat untuk mengantisipasi risiko itu? Carol A. Poore, seorang konsultan menajemen, membagi kiatnya berikut ini.

Kehilangan pekerjaan, atau dipecat dari tempat bekerja, biasanya dilatarbelakangi beragam hal. Antara lain, kemerosotan ekonomi yang berimbas pada perusahaan, kebijakan efisiensi dan perampingan, perubahan orientasi dan sasaran perusahaan, masalah kesehatan atau persoalan pribadi yang bersangkutan, hingga masalah-masalah politik lokal.

Jika sedemikian banyak faktor penyebab seseorang bisa kehilangan pekerjaan, lantas apa yang bisa dilakukan untuk, paling tidak, mengurangi risiko karier? Jawabnya adalah menyusun portofolio karier. Ini adalah pendekatan manajemen risiko karier yang mirip dengan penyusunan portofolio finansial.

Pendekatan ini berguna membantu Anda untuk menyusun 4 (empat) “aset atau investasi” karier secara spesifik. Keempatnya menawarkan kesempatan yang sama untuk menjalani kehidupan pasca kehilangan pekerjaan. Selain itu, Anda pun bisa memilah-milah risiko yang mungkin ada, sehingga Anda selalu punya opsi karier.

Awali dengan Personal Purpose
Untuk menyusun portofolio karier, terlebih dulu harus diawali dengan menyusun Personal Purpose, atau dalam arti luas, tujuan hidup/pribadi. Personal Purpose inilah yang akan menjadi petunjuk arah dalam mengambil keputusan-keputusan mengenai karier. Mulailah dengan menjawab sejumlah pertanyaan di bawah ini:

Anda ingin diingat seperti apa kira-kira dalam 100 tahun dari saat ini?
Apa yang paling memuaskan Anda?
Sebutkan dua proyek membanggakan yang Anda kerjakan dalam beberapa tahun terakhir?

Setelah menjawab pertanyaan di atas, mulai melihat segala sesuatunya dalam bingkai besar, dan mulailah menulis tujuan hidup Anda, dengan mengisi titik-titik berikut ini: Tujuan hidup Saya adalah ……………………………………………………………..

Suatu saat bisa saja anda merevisi tujuan hidup Anda. Namun, tetap akan menjadi panduan yang bermanfaat saat akan memutuskan sesuatu yang penting dalam karier Anda.

Menyusun Portofolio Karier
Kini saatnya untuk menakar apa saja kira-kira aset karier yang Anda miliki dan ingin Anda bangun. Panduannya adalah empat aset atau investasi karier di bawah ini:

Primary Income Investment. Yaitu berupa pekerjaan utama atau bisnis Anda, yang merupakan sumber penghasilan finansial utama.
Secondary Income Investment. Yaitu pekerjaan sampingan atau sumber penghasilan alternatif, yang membuka kesempatan bagi Anda untuk memperoleh pengetahuan tambahan, opsi karier, pendapatan. Meskipun tidak semua orang ingin membangun dan memiliki bisnis sendiri, bagaimanapun juga, mereka yang berani memutuskan untuk menjalankan bisnis sendiri secara sampingan, berkesempatan memiliki bisnis besar kelak.
Volunteer Investment. Yaitu Jaringan atau hubungan baik dengan orang atau komunitas lain yang berguna bagi Anda. Jika komunitas itu mendukung atau sesuai dengan tujuan hidup Anda, maka Anda akan memperoleh kemampuan atau pengetahuan baru.
Lifelong Learning Investment. Berupa aset atau investasi yang bersifat seumur hidup, termasuk mentorship, pendidikan, dan kegemaran membaca.

Tatkala Anda sudah mampu mengidentifikasi aset karier yang Anda inginkan, selanjutnya Anda bisa memasukkan tahapan-tahapan rencana untuk membangun portofolio karier. Tujuan hidup Anda secara keseluruhan, waktu yang tersedia, kemampuan untuk menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga, harus menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan. andi nursaiful- Men's Obsession Edisi 073 November 2009


Contoh Portofolio Karier

Ini adalah contoh paling nyata betapa penyusunan portofolio karier akan membuat hidup seseorang menjadi begitu berkualitas.

Pam Overton adalah seorang wanita muda yang berdomisili di Phoenix, AS. Ia bekerja sebagai pengacara di law firm Greenberg Traurig. Ia telah menyusun portofolio karier, dengan menggabungkan tiga aset/investasi karier: Primary, Volunteer, dan Lifelong Learning.

Ia menulis tujuan hidupnya: Mengejar karier setinggi mungkin, membina keluarga dan menempatkan keluarga sebagai prioritas nomor satu, dan memiliki aktifitas spiritual dan sosial sebagai penyeimbang.

Sumber penghasilan utamanya (Primary Income Investment) berasal dari pekerjaan utama sebagai pengacara. Di sini, Pam sudah sukses, antara lain dengan memperoleh penghargaan Golden Heart of Business Award pada tahun 2000, dan meraih gelar dari majalah wanita Today's Arizona sebagai salah satu "Top 10 Business Women in the State of Arizona" selama dua tahun berturut-turut.

Volunteer Investment yang dimiliki Pam, antara lain, menjadi salah satu anggota dewan direksi Fresh Start Women's Foundation, sebuah organisasi yang bertujuan membantu para wanita yang butuh bimbingan karier dan keuangan. Keterlibatan Pam di sini, sangat bermanfaat untuk melatih kemampuan leadership, organisasi, dan menambah pengetahuan tentang isu-isu kemasyarakatan. Selain itu, Volunteer Investment lain yang dimiliki Pam, adalah membantu pengembangan dan penelitian masalah kanker dan penyakit jantung. Ia aktif terlibat dalam aksi pengumpulan dana di All Saints' Episcopal Day School di mana anaknya bersekolah.

Untuk Lifelong Learning Investments, Pam menjadi anggota sejumlah asosiasi pengacara, sekaligus aktif pada Arizona State Bar's Ethics Committee. “Semua investasi karier ini memberikan nilai tambah pada karier saya, dan membuka kesempatan luas untuk belajar dan membentuk jaringan luas,” ujarnya.

Secara berkala, Pam mengkaji ulang portofolio kariernya demi menjaga keseimbangan hidup. Maklum, Pam juga seorang ibu dari tiga anak.

Nah, berdasarkan contoh di atas, jika Anda memiliki lebih dari satu portofolio karier, tentu Anda akan lebih fleksibel dan percaya diri untuk menghadapi risiko-risiko karier di masa depan. Tak masalah berapa usia Anda dan di mana Anda merintis karier. Yang terang, tak pernah ada kata terlambat untuk menyusun dan membangun portofolio karier.

CoupleTips: Banyak Cara Menyatakan Cinta


Menyatakan cinta kepada pasangan kerap gampang-gampang susah. Untuk mengucapkan “I Love You” saja terkadang begitu sulit keluar bagi sementara orang, mungkin karena perasaan gengsi. Namun bagi sebagian lainnya, tiga patah kata itu bisa meluncur begitu mudah, sampai-sampai nyaris kehilangan makna dan sekadar lip service.

Lantas kenapa harus selalu diucapkan secara verbal jika sesungguhnya banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk mengungkapkan perasaan Anda kepada pasangan? Bahkan ungkapan non verbal kadangkala jauh lebih bermakna ketimbang sekadar kalimat.

Psikolog Scott Haltzman, M.D., yang juga penulis buku “The Secrets of Happily Married Men" menyatakan pria memang cenderung action-oriented, sehingga mereka kerap merasa kurang nyaman untuk mengungkapkan perasaan cintanya.

Di bawah ini adalah beberapa cara unik yang bisa Anda terapkan untuk mengungkapkan cinta Anda kepada pasangan secara non verbal. Ide-ide ini dirangkum oleh situs RedBookmag.com berdasarkan masukan dari pembacanya.


• Tuliskan perasaan Anda pada selembar kartu dan sisipkan di bawah bantal pasangan Anda, dengan harapan agar ia menemukannya sebelum berangkat tidur.
• Kartu kecil berisi tulisan ungkapan perasaan Anda juga bisa diselipkan di lemari pakaian dalam pasangan Anda.
• Jika di rumah Anda menggunakan shower dengan pemanas air, tulislah ungkapan perasaan Anda di kaca kamar mandi saat Anda mandi di malam hari sepulang kerja. Tulisan itu akan muncul dengan sendirinya di pagi hari ketika pasangan Anda menggunakan shower dengan pemanas air.
• Oleskan pasta gigi ke sikat gigi pasangan Anda di malam hari sebelum berangkat tidur. Perbuatan kecil dan sederhana ini pun bisa bermakna dalam bagi pasangan Anda.
• Rekam acara TV favorit pasangan Anda yang tak sempat ia tonton, dan berikan padanya di hari libur.
• Belilah sebuah kamus dan garis bawahi atau beri tanda khusus pada defenisi yang mendeskripsikan dirinya, atau sesuatu yang mengingatkan Anda padanya.
• Panaskan kendaraan pasangan Anda di pagi hari agar ia bisa langsung berangkat kerja tanpa perlu menunggu kendaraan siap.
• Diam-diam ganti banner di ponsel pasangan Anda dengan kalimat “I Love You.”

sumber: Men's Obsession, Edisi 073 Feb 2010, by andi nursaiful

“I Love You” dalam 101 Bahasa

1. Afrikaans - Ek is lief vir jou
2. Albanian - te dua
3. Alentejano (Portugal) - Gosto De Ti, Porra!
4. Alsacien (Elsass) - Ich hoan dich gear
5. Amharic (Aethio.) – Afekrishalehou
6. Arabic - Ana Ahebak / Ana Bahibak
7. Armenian - yes kez shat em siroom
8. Assamese - Moi tomak bhal pau
9. Assyr - Az tha hijthmekem
10. Bahasa Malayu (Malaysia) - Saya cinta mu
11. Bambara - M’bi fe
12. Bangla - Ami tomakay bala basi
13. Bangladeschi - Ami tomake walobashi
14. Basque - Nere maitea
15. Bavarian - tuI mog di
16. Belarusian - Ya tabe kahayu
17. Bengali - Ami tomake bhalobashi
18. Berber - Lakh tirikh
19. Bicol - Namumutan ta ka
20. Bisaya - Nahigugma ako kanimo
21. Bolivian Quechua - Qanta munani
22. Bosnian - Ja te volim
23. Bulgarian - As te obicham
24. Burmese - chit pa de
25. Cambodian - bon saleng oun atau oun saleng bon
26. Canadian French - Je t’adore atau Je t’aime
27. Catalan - T’estim (mallorcan)
28. Cebuano - Gihigugma ko ikaw
29. Chamoru - Hu guaiya hao
30. Cherokee - Tsi ge yu i
31. Cheyenne - Ne mohotatse
32. Chichewa – Ndimakukonda
33. Chickasaw - Chiholloli
34. Chinese - Ngo oi ney a (kanton), Wuo ai nee (Mandarin)
35. Corsican - Ti tengu cara atau Ti tengu caru
36. Creol - Mi aime jou
37. Croatian - Volim te
38. Czech - Miluji Te
39. Danish - Jeg elsker dig
40. Dutch - Ik hou van jou
41. Dutch - Jeg elsker dig
42. Ecuador Quechua - Canda munani
43. English - I love you
44. Eskimo – Nagligivaget
45. Esperanto - Mi amas vim
46. Estonian - Ma armastan sind / Mina armastan sind
47. Ethiopia - afekereshe alhu
48. Faroese - Eg elski teg
49. Farsi - Tora dost daram
50. Filipino - Mahal ka ta
51. Finnish - rakastan sinua
52. Flemish - ‘k’ou van ui
53. French - Je vous aime
54. Friesian - Ik hald fan dei
55. Gaelic - Tá mé i ngrá leat
56. Galician - Querote atau Amote
57. Georgian - Miquar shen
58. German - Ich liebe Dich
59. Ghanaian - Me dor wo
60. Greek - agapo se
61. Greek - S’agapo
62. Greenlandic – Asavakit
63. Gronings - Ik hol van die
64. Gujarati - oo tane prem karu chu
65. Hausa - Ina sonki
66. Hawaiian - Aloha au ia`oe
67. Hebrew - Ani ohevet ota
68. Hiligaynon - Guina higugma ko ikaw
69. Hindi - Main tumsey pyaar karta hoon / Maine Pyar Kiya
70. Hmong - Kuv hlub koj
71. Hokkien - Wa ai lu
72. Hopi - Nu’ umi unangwa’ta
73. Hungarian - Szeretlek te’ged
74. Icelandic - Eg elska thig
75. Ilocano - Ay ayating ka
76. Indi - Mai Tujhe Pyaar Kartha Ho
77. Indonesian – Aku cinta padamu
78. Inuit – Negligevapse
79. Iranian - Mahn doostaht doh-rahm
80. Irish - taim i’ ngra leat
81. Italian - Ti amo/Ti voglio bene
82. Japanese - Anata wa, dai suki desu
83. Kannada - Naanu ninna preetisuttene
84. Kapampangan - Kaluguran daka
85. Kenya – Achamin atau Ninakupenda
86. Kikongo - Mono ke zola nge
87. Kiswahili – Nakupenda
88. Konkani - Tu magel moga cho
89. Korean - Na No Sa Lan Hei
90. Kurdish - Khoshtm Auyt
91. Laos – Chanrackkun
92. Latin - Te amo
93. Latvian - Es mîlu Tevi
94. Lebanese – Bahibak
95. Lingala - Nalingi yo
96. Lithuanian - As Myliu Tave
97. Lojban - mi do prami
98. Luo – Aheri
99. Luxembourgeois - Ech hun dech gäer
100. Macedonian - Jas Te Sakam
101. Turkish - seni seviyorum

Angels in America: Wajah Amerika dalam Epidemi AIDS


Jika dari judulnya Anda berharap akan menikmati tontonan yang menghibur, sebaiknya buang jauh-jauh keinginan itu. Angels in America bukan tentang bidadari-bidadari cantik, melainkan sebuah film berat yang sulit dicerna sepotong-sepotong. Secara keseluruhan, ini film tentang kekalahan, keterpurukan dan keterasingan. Tentang kesombongan luar biasa, kejujuran sekaligus kebohongan, dan tentang wajah sosial politik Amerika Serikat. Sebaris kata untuk mewakilinya: sebuah film mencerdaskan yang sangat layak tonton.

Jika masih juga belum cukup untuk membuat Anda tertarik menontonnya, mungkin kehadiran aktor/aktris kawakan Al Pacino, Meryl Streep, dan Emma Thompson, akan memotivasi. Atau, predikat yang disematkan pada film ini: Menang lima Golden Globes (Best Miniseries, Best Actor, Best Actress, Best Supporting Actor, Best Supporting Actress), dan 33 penghargaan lain, serta 27 nominasi.

Pada 2004, Angels in America memecahkan rekor sebagai program TV yang meraih Emmy Award terbanyak dengan memenangi 11 award dari 21 nominasi. Screenplay yang ditulis oleh Tony Kushner, mengadaptasi karya dramanya sendiri yang juga sukses meraih Pulitzer.

Kerumitan plotnya tergambar dari durasi selama enam jam penuh. Mengambil seting awal pada 1985 tatkala Ronald Reagen mulai duduk di Gedung Putih, di tengah epidemi AIDS yang menghantui warga AS. Dikisahkan Prior Walter (Justin Kirk) sangat terpukul ditinggal pacar homonya, Lou (Ben Shenkman) setelah mengaku mengidap AIDS.

Sementara itu, Joe Pitt (Patrick Wilson), seorang pengacara muda pendukung Partai Republik dan seorang penganut Mormon, juga bermasalah dengan istrinya, Harper (Mary-Louis Parker). Harper terjebak dalam perkawinan hambar dan kesepian luar biasa akibat lack of sex, sehingga lari ke valium dan lebih sering berada di dunia halusinasi. Ia curiga sang suami adalah seorang gay, yang ternyata belakangan terbukti benar. Joe malah terpikat dengan Lou, yang masih dihantui rasa bersalah telah meninggalkan kekasihnya.

Bahkan Joe Cohen (Al Pacino), seorang pengacara senior yang memiliki relasi dan kekuasaan besar di dunia politik dan hukum, pun pengidap AIDS akibat kehidupan homoseksualnya. Yahudi aktivis sayap kiri ini dibenci banyak orang akibat keserakahan dan kesombongannya. Ia memaksa Joe untuk menduduki sebuah posisi di Departemen Kehakiman, dengan tugas mengamankan ancaman yang menghantui Roy.

Belakangan, Roy kian terpuruk setelah izin praktik pengacaranya dicabut. Tergolek lemah ranjang rumah sakit, ia terus dihantui oleh halusinasi kehadiran Ethel Rosenberg (Meryl Streep), perempuan yang dieksekusi mati oleh keahlian Roy di ruang sidang. Di tengah kesombongan luar biasa, Roy meninggal mengenaskan akibat AIDS.

Di saat lain, Prior yang menanti ajal, terus dihantui mimpi buruk dan halusinasi kedatangan bidadari dari surga yang membawa pesan bahwa dirinya telah diangkat sebagai nabi oleh dewan bidadari dari lima benua. Para bidadari menyampaikan bahwa jangankan dunia, bahkan surga pun telah diabaikan oleh Tuhan.

Di tengah keterpurukan jiwa-jiwa yang hilang itu, mereka tetap berjuang untuk memperbaiki semua kehancuran yang telah terjadi. Kembali merajut ikatan cinta dan menuai harapan di atas puing-puing kesendirian dan keterasingan. Tapi tak seperti film berat dan rumit lainnya, ini berakhir happy ending, persis di masa berakhirnya perang dingin.

Yang menarik, kecuali Al Pacino dan Mary-Louis Parker, para aktor/aktris memerankan lebih dari satu karakter. Meryl Streep, misalnya, selain memerankan Ethel Rosenberg, ia juga berperan sebagai Hannah Pitt (ibu Joe Pitt), Rabbi Yahudi, dan Bidadari benua Australia.

Rasanya tak berlebihan jika menyebut film ini sebagai salah satu masterpiece sinema Amerika. Semua nyaris atau bahkan sempurna. Mulai dari akting para tokohnya, naskah cerdas yang membumi, sinematografi kelas wahid, dan daya pikat dari awal hingga akhir.

Angels in America bukan saja telah mendokumentasikan secara jujur tentang kehidupan kaum gay Amerika, berikut penderitaan akibat epidemi AIDS yang menghantui mereka. Film ini juga bertutur cerdas tentang kehidupan sosial politik masyarakat AS di pertengahan 1980-an, di mana semua orang dihantui ketakutan dan juga dipenuhi harapan. Juga, menggambarkan titik awal karakter politik AS yang kelak tampil sebagai polisi dunia di masa-masa akhir pemerintahan Ronald Reagen. Sekali lagi sebuah film sangat layak tonton.- andi nursaiful

Judul Film : Angels in America
Genre : Drama, Miniseri TV
Pemain : Al Pacino, Meryl Streep, Jeffrey Wright, Mary-Louis Parker, Emma
Thompson, Patrick Wilson, Ben Shenkman, Justin Kirk
Sutradara : Mike Nichols
Studio : HBO, 2003

Kamis, 04 Maret 2010

Nova Riyanti Yusuf: Sensuality in Prose


Bercengkerama denganmu di pojok QB Bookstore Kafe, pada sebuah sore yang sepi. Kau bawa aku mengembarai alam pikirmu, menelusuri pedalaman hatimu. Kau seret aku menikmati kerenyahan candamu, mencumbui kecantikan jiwamu. Maka kutulis surat ini sebagai ungkapan rasa dan kagumku.


Nova yang riang … Siapa pernah menyangka kau sekonyol itu. Tawamu bertebaran di kalimatmu, seolah dunia hanya satu wajah: indah. Toh, di balik gurau kanak-kanak itu, aku menangkap kecerdasan yang memikat. “Waktu kecil aku cukup nakal dan tomboy. Kerjanya nabokin cowok-cowok yang ganggu, saya tampar, saya pukul sampai muntah!” akumu. Hmm, tak sia-sia jadi atlet tenis nasional kala itu kan? Tapi kenapa masa remajamu jadi manja? Lantaran kaulah si bungsu yang terbiasa diurus segala keperluannya? “Ada masa aku kesulitan mencari problem solving, misalnya saat putus cinta,” akumu.

Nova yang unik… Kubayangkan sosokmu dulu. Masa di mana kamu jadi pusat perhatian di kampus. Rambut cepak ala Dolores sang vokalis The Cranberries, kemeja dan celana gombrang, sendal besar milik ayahmu, plus walkman yang menempel ke mana kau pergi. Tentu itu bukan gaya busana butik di Seminyak, atau gaya Vintage & Bohemian dan J-pop yang jadi favoritmu kini. “Gaya saya memang aneh sendiri waktu itu. Eh, ternyata banyak yang naksir, ha ha ha!” Tapi mungkin juga lantaran kaulah si gadis cerdas yang memimpin majalah kampus. Kini pun kau masih unik, Nova. Suka gaya busana Sarah Jessica Parker sang bintang Sex and The City itu. Genre musik alternatif Smashing Pumpkins atau Stone Temple Pilots, hingga lirik penuh makna ala U2 dan The Cranberries. “Dulu sempat les piano, tapi nggak bakat. Les drum tapi nggak terlalu emosionil. Jadi akhirnya jadi musisi pasif aja, ha ha ha!” Ah, tawa itu.
Nova yang telanjang… Musik pula yang mengiringi lincah jari mungilmu menekan keyboard menuangkan ekspresi dalam novel. Siapapun tak menyangka gadis gaul sepertimu mampu menelanjangi relung jiwa manusia yang lama berkubang lumpur hipokrit lewat kekuatan prosa. Dengan “Mahadewa Mahadewi” dan “Imipramine” kau ungkap persetubuhan bebas, pernikahan tanpa cinta, aborsi, hingga percintaan liar kaum gay. Kau bersaksi tentang agama dan moralitas yang jadi dalih kosong, tentang pemujaan benda berlebih, tentang dunia yang ditutup-tutupi namun realitas yang hidup. Telanjang tanpa menghakimi, tanpa penilaian. Toh, aku sulit memahami kenapa saat menulis Imipramine kamu suka jalan-jalan di rumah dengan tubuh hanya berbungkus underwear? Hmm, kini perkenankan aku mengutip kalimat novelmu: “Aku tidak suka batasan-batasan. Aku benci norma-norma. Pandangan hidup. Falsafah. Atau apa sajalah. Semua prinsip yang menyesatkan. Manusia terlahir suci. Dunia seharusnya indah. Hidup seharusnya sederhana…”

Nova yang berdamai dengan hidup … Seekstrem itukah cara pikirmu? Segila film Godfather Trilogy kesukaanmu itu? “Ah, aku hanya meluapkan emosi sesaat kala itu, meskipun, itu sudah melalui proses kristalisasi yang lama. Aku memang belum dewasa waktu itu, masih coba break free. Itu setelah bapak dan kakakku berpulang. Aku marah dengan kehidupan, aku meledak, belum berdamai dengan realita,” kenangmu. Adakah kisah Lost in Translation, Reality Bites atau Virgin Suicide mempengaruhimu? Entahlah. Yang pasti, kepergian orang-orang terkasih yang begitu memerihkan, jadi titik balikmu. Hidup terlalu pendek, katamu kala itu. Komitmen membebani, kekasih pun kau tinggalkan. Ego merajaimu. Kau ingin lepas, terbang menjelajah langit seperti elang. Lalu kau menulis, dan menulis, melepaskan ekspresimu. “Tapi sekarang aku sudah make peace dengan reality. Aku berproses. Masa lalu adalah proses belajar,” ujarmu. Maka Umroh kau jalani, Tuhan kau dekati. Kau pun jatuh cinta pada fajar di kota Madinah.

Nova yang bersinar terang … Seharfiah namamu, kaulah bintang menyilaukan di galaksi. Entah sudah berapa kali novelmu dicetak ulang. Penerbit berebut meminangmu. Padahal, di sela praktikmu sebagai dokter muda, dan mengajar Bahasa Inggris ke anak-anak kecil, kau tetap mengisi kolom sejumlah majalah. Di tengah aktivitasmu menggarap film dan menulis, kau tetap mengejar gelar S-2 psikiatri. Lantaran itukah kau kini menjauh dari lelaki setelah delapan bulan silam berpisah dengan putra Amien Rais itu? Lagipula, katamu, kau tak suka keramaian. Kau nikmati berada di kamarmu menyantap kue-kue kering jualan dosenmu di kampus. Senikmat kala mengagumi hening kabut di Ubud ditemani ginger ale atau irish coffee. “Kadang pulang kuliah capek dan pusing, aku lebih suka creambath deket rumah, rileks pake aromatherapy atau nonton DVD Sex and The City sampai bego! Ha ha ha!” Karena itu juakah tak kau hiraukan mereka yang antre berharap balas cintamu? “Bukannya egois. Tapi, mau memulai jadi males mikirnya. Mesti kenal keluarganya lagi, belum pencocokan lain. Menikah kan bukan cuma menyatukan dua jiwa tapi dua keluarga,” tuturmu sembari memainkan gelas kosong di depanmu.

Nova yang merasa kosong … Lantas kenapa kau rasa hidupmu belum lengkap? “Ya. Karena belum ada pasangan hidup!” tegasmu. Tapi sebegitu pentingkah sampai kau kadang menangis di kala sendiri? Bukankah sekeliling melihatmu sebagai wanita mandiri yang menikmati kesendirian? “Iya, dikira aku udah seperti itu, nggak peduli, bisa hidup sendiri. Padahal nggak juga. Aku tetap suka ngerasa lost. Masak share ke orang tua terus. Kan perlu juga antardua orang dewasa yang saling memahami.” Kau percaya konsep semua manusia diciptakan berpasangan. “Tapi saya bingung, kok pasangan saya belum nongol-nongol, ha ha ha!” Kutelisik sorot matamu. Lalu kupahami, kau laksana merpati yang sayapnya mulai lelah berkepak, mencari tempat melabuhkan hatimu untuk selamanya. Laksana sepotong tulang yang letih mencari tempatnya di rongga rusuk Adam. “Aku diketawain temen-temen, kok ribet banget mau cepet nikah. Bukan apa-apa, tapi aku merasa memang ada yang belum lengkap. Cuma, itu tadi, susah nyari yang sesuai itu. Apalagi, aku pengennya menikah sekali aja. Ribet kawin cerai itu. Aku orangnya paling malas dengan teknis ribet. Misalnya beda agama, dari awal aku udah bilang nggak. Nggak mau ribet!”

Nova yang pandai mencinta … aku menerawang siapa gerangan belahan jiwamu yang entah di mana itu. Berbahagialah dia. Sebab aku tahu, kau begitu agung mencinta. Kau memaknai dan mengekpresikan rasa itu sungguh-sungguh. Kau marah pada mereka yang membiaskan cinta. Meski, kau akui pernah mencinta dengan mengharap balas. “Tapi aku bisa survive dari putus cinta tiga kali setelah memahami konsep cinta yang… agung. Aku dihibur oleh filsafat.” Mengutip sang filsuf sahabat rohanimu itu, katamu, cinta adalah sebuah even, about be, tak ada akhirnya, endless. Sepanjang jalan. “Maka kalau seorang berani mengucapkan kata cinta berarti harus berani melepaskan semua atribut, naked!” Telanjang katamu, Nova? Termasuk ekspresi making love? “Ya, cinta dan seks memang tak terpisahkan. Cinta harus mengejawantah, harus interconnecting, sebuah ramuan, chemistry dari segala elemen.” Kau pun mengaku pernah menggebu-gebu menjalin kasih. Spontan, penuh ekspresi. Seru, penuh kejutan seperti kisah film. Tapi benarkah kau rela melepas kegadisan itu demi cintamu yang agung, Nova? “Ah nggak, nggak! Intercourse nggak lah! kalau itu aku bisa guarantee, ha ha ha!” Katamu, making love itu bentuknya banyak. Bagimu, status pernikahan tetap harus. “Mikir konsekuensinya aja. malas ke situnya deh. Untung Tuhan kasih konsekuensi, ya. Kalau tidak, pasti semua orang lalukan, ha ha ha…!” Ah, Nova. Kau siksa aku dengan tawa itu!

Nova yang merasa seksi… tersiksa jugakah kau menahan hasrat ragawimu? “Ya, kadang mengganggu. Wajar kan. Gila banget kalau nggak. Cuma, sekarang sibuk banget, sampai rumah udah collaps. Jadi sedikit banyak terhapus kegiatan. Kalau nggak sibuk, mungkin udah gila! Ha ha ha!” Ah Nova, bibirmu itu. Benar kata mereka, di situlah letak sex appeal-mu. “Dulu sebel banget sih sama bibir saya yang monyong. Cuma lama-lama banyak yang bilang seksi. Ya, saya bermodalkan itu, ha ha ha!” Tawamu begitu lepas. Memecah hening kafe kecil favoritmu itu. Aku meningkahi sesaat. Hanya sesaat, karena, jujur saja, aku malah membayangkan low hip underwear berbahan lycra dan bermotif lucu tapi sportif yang kau gemari. Aku mencium wangi vanila dari parfum bodyshop yang jadi andalanmu. Katamu lagi, kau rindukan cowok seksi. Seksi versimu, tentu. “Tak perlu cakep, tapi punya falsafah hidup, mengerti romance. Bisa mengungkapkan pikiran tentang apa saja yang mengejutkan aku, sesuatu yang sederhana tapi aku lupakan. Itu kayaknya seksi banget deh!” Tapi kenapa tiga mantan kekasihmu sama dari Jogya, sama berwajah Arab berambut ikal?

Nova yang jujur … Kau mendefenisikan dirimu perempuan lengkap dan balance. Punya ego kuat sekaligus sisi lemah. Kadang merasa superior, tapi sampai rumah menangis juga merasa ada yang kurang. Kamu sebut dirimu pekerja keras, tidak mau kalah, dan sensitif. “Kadang aku merasa diri terlalu tinggi, sehingga saat disakiti, aku marah. Padahal kan seharusnya kontemplasi. Yah, aku memang masih proses belajar, tentang apa saja!” akumu. Kamu berobsesi kelak mendirikan pusat rehabilitasi psikis yang terintegrasi. Sebuah oase kejiwaan yang tak cuma memberi siraman rohani, tapi juga pengobatan medis. “Seperti spa yang khusus mengobati body and soul, penuh suasana rileks, tidak menakutkan seperti RS jiwa,” katamu. Toh, aku teramat paham yang kau cari saat ini sosok untuk mengisi sisi terpenting hidupmu: suami dan ayah anak-anakmu!

Kuakhiri surat ini, Nova. Sepotong surat tak terkirimkan. Biarkan begitu. Sebab kau bukan dan takkan pernah jadi milikku. Kau milik semua orang. Semua yang menghargai makna kebebasan dan pembebasan diri.


Novagrafi
Nama Nova Riyanti Yusuf Lahir Palu 27 November 1977 Tinggi/berat 160 cm/44-45 kg Tokoh yang dikagumi Simone de Beauvoir, Jean Paul Sartre, Bill and Hillary Clinton, JK Rowling, Sofia Coppola Makanan Favorit Kebab, Sashimi, Ketoprak dan bakso bergajih Pendidikan SD Ora et Labora, SMP Al-Azhar, SMA Tarakanita I, FK Usakti, S-2 Psikiatri UI (tahun I) Pekerjaan Dokter Umum di Klinik Universitas Paramadina Mulya, Honorary Editor Majalah Tasya, Jurkam Motivasi Minat Baca Perpunas RI, (skrg Anggota DPR dr Demokrat) Karya novel Mahadewa-Mahadewi, Imipramine, 30 Hari Mencari Cinta, Jurnal Prosa 4: Yang Jelita Yang Cerita, Threesome dan Dunia Tanpa Waktu (dua terakhir rilis Februari 2005) Prestasi Pemenang Fun Fearless Female 2004 Majalah Cosmopolitan. Aktivitas Lain, kolumnis di majalah MO, Djakarta, Gatra, terlibat film Betina dan Tuhan, Beri Aku Kentut

Sumber: Rubrik She's, Majalah Men's Obsession Edisi Februari 2005
, penulis: andi nursaiful

small mind- big mind

mengutip org bijak: Berjalan menapak alur yg ditetapkan tuhan, kelak kita akan tiba pd kesadaran bhw logika dan pikiran bukanlah sglanya. Ada wilayah khdpan yg mudah dituntaskan pikiran, namun ada area di mana logika tak berkutik. bahkan iptek trkdg hanya berujung pd kebuntuan.

logika manusia mmg sarat kebuntuan. perang, isu trorisme, kemiskinan struktural, demoralisasi, class of civilization, hedonisme, narsisme, konflik dal keluarga, office politics, hingga lacks of love, memamng tak pernah pergi dr kehidupan manusia. berusahalah memahami bahwa hitam sesungguhnya bukan lawan putih, melainka...n pembanding yg membuat putih terlihat lebih putih.

orang jahat bukan musuh orang baik, melainkan guru kebaikan dlm arti keras. bahkan sukses pun bukan satu-satunya yg berguna, sebab gagal jg bermanfaat, terutama utk memberitahu sisi mana dari diri kita yg perlu dibenahi.

Mungkin benar tak ada sesuatu yg keliru. beda bunga mawar yg harum dan rumput liar hanya dlm pikiran. hanya dengan menyingkirkan small mind (prasangka dan kerangka buruk) maka semua akan terlihat sama baik, sama tinggi, dan sama bermanfaat.itu yg disebut big mind. Selamat berkarya ....